Geguritanku dimuat di Majalah DAMARJATI nomor 64 tahun 2008

PESAKITAN

urip kang abot

ngene kleru, ngono luput

ngetan ora bener

ngulon ora gathuk

meneng salah, obah ora kena

dikungkung

dipingit

dipasung

dikunjara

dirante

dibanda

dirut

diidak

dikurung

dilebur

dijur-jur

diobrak-abrik

diosak-asik

dijuwing-juwing

angen-angene

pepenginane

gegayuhane

kamardikane !

Purworejo, Mei 1993

( Majalah DAMARJATI (Jakarta), nomer 64, Kemis Pon, 15 Mei - 28 Mei 2008 )

Geguritanku kapacak ing Kalawarti Umum Basa Jawa DAMARJATI nomer 68 taun 2008

Sakwise sabageyan geguritanku njedhul ing sawetara edisi, salah sawijining geguritan tulisanku kapacak maneh ing Kalawarti Umum Basa Jawa Damarjati kang terbit ing Jakarta. Geguritanku mau mawa irah-irahan Karo Aku.

KARO AKU

bebarengan sliramu

mecaki dina-dina kebak puspa

lan warna

prasasat tanpa ana rasa ngelak lan luwe

ora ngerti-ngerti, sedhela tekane esuk marani sore

wewangunan kang awake dhewe gawe sakloron

wis katon endah

sanajan durung ngerti kapan bakal dadi

daksawang netramu

angel anggonku nggoleki (nyurasa) pangucapmu

kaya isih kabotan, sliramu

bebarengan ngadhepi dina-dina kang bakal lumaku

Ngayogyakarta, 14 Januari 2001

(Kalawarti Damarjati, alamat redaksi: Gedung Gria Media Jl. Balai Pustaka Timur No. 17, Lt. IV Rawamangun Jakarta Timur 13220, telp. 021-4757979; email: damar1964@yahoo.com )

AKU TANGGALKAN MESIN

(lanjutan dari AKU MENUJU MESIN & KETIKA AKU MESIN)

Telah kukayuh sekuat tenaga mesin namun seperti ada yang menarikku jadi berat, hingga putaran dan pusaran bayang roda dunia melambat. Kudengar majikanku melototiku, menatap tajam seperti mau membakar. Dia memukulku, menamparku, menendangku, membantingku, lalu melemparkanku: dasar mesin tua, uzur, renta; tak mampu ikuti pergolakan kuasa! Sungguh kau hanyalah onggokan kumal bau, rusak, remuk, sampah tak berguna! Begitu umpat majikanku yang masih tersisa di radang dengarku di antara gamang rupa dan pendar tanya.

Di bentang jarak jeda perih dan luka, sedemikian lambat, lirih, lembut ada yang terbangun, terbuka. Kebangkitan, penyadaran. Pembuluh, otak, tubuh, tangan, kaki, jantung, perut, kelamin, dan segala yang selama ini mesin, menggelembung terbitkan letup, berubah warna, dengan ruam-ruam belajar lagi alur sejarah kitab manusia: lepaskan segala yang mesin, mengemuka segala yang rasa cipta karsa.

Aku mulai bisa lagi mendengarkan sekumpulan irama yang terbang mencari nada yang sembunyi entah di langit mana buat menggenapkan alur lagu cinta yang telah tak sabar untuk mekar. Juga sepoi senja dalam lubang bambu seruling gembala, gemersik dedaun yang berciuman dengan angin, untai renyai gerimis yang menelusup di tepi kuduk dan beranda dada, gemericik pancuran di sisi kemarau yang menebarkan segar di samping kelok arus sungai yang menawarkan kecipak kata dan lumut sapa bermuara di wajah-wajah sederhana penghuni desa penjaga sahaja. Geriap mutiara sukma silam mengalir tak henti-henti di bibir ranjang.

Aku mulai bisa lagi meraba relief dinding dunia yang riuh oleh keterasingan, kedekatan angan dan raih telah menjauhkan mata musim yang harusnya mengingatkan dengan berkata: bacalah. Mencoba mencari kokoh bangunan yang bertulang cinta dengan rangka kasih dan mewujud tembok sayang di seluruh berkas simpul jiwa. Ada berapa potret corat-coret, ada berapa fragmen tentang pelarian bias cuaca, di punggung-punggung sejarah yang tumpah.

Aku mulai bisa lagi mencium aroma mimpi yang kuyup oleh hasrat, tanah yang basah karena kehadiran hujan yang tiba-tiba, huma dan kebun yang selalu rebah dalam rindu doa. Tinta dan cat membaur dalam rengkuh peluk menunggang pada sirip-sirip pencarian mengejar kemana jalur sapuan kanvas melenggang rantau dengan hela pantau. Tubuh-tubuh yang pengap dikerubut harap, sosok-sosok yang terseok dalam setapak berita, adalah buku-buku terbuka yang siap membagikan pengalaman kepada paragraf-paragraf yang memulai langkah. Udara merindu pengembaraan melulur tarian nafas putih.

Aku mulai bisa lagi melihat lazuardi jingga di lengkung kidung yang sajikan jejak panorama di kening kenang, intip tulisan-tulisan kecil yang menggenang pada kelopak rasa puisi yang mengambang di teratai berbalut ganggang, di telaga purnama dengan riak-riak yang ruang. Jelujur embun yang menekuni ritual puasa pada wajah dini hari yang panjang adalah perangkap bagi titik pandang menaksir anyaman dialog zaman yang renggang. Mengalirkan perdu kedalaman lubuk di pelupuk. Bumi mengumpulkan gelisah sembari sendu tengadah pada relung langit yang mendung, jua pada wajah langit yang rekah. Ada berjilid-jilid hikayat cahaya yang tersimpan dalam lorong-lorong yang lolong.

Aku mulai bisa lagi merasakan lembut tangan sepi merangkulku bertubi-tubi di padang pengembaraan yang begitu terbuka, sawah ladangku kerontang paceklik lama tak bersua dekap kisah-kisah bijak, kamarku yang ceruk memar menceritakan masa lalu tampar yang akhirnya tumbuh menjadi belai, di rentang tawa dirintang tangis. Elegi-elegi roman temaram bergantian dengan riwayat pijar berlarian di jalanan pembuluh yang menawarkan geronggang purba yang nganga, memanggil jelajah gapai masuki lingkar lajunya. Aku begitu piatu di hadapan malam yang renjana.

Dalam desak dan dorong gelombang waktu yang mengangkut semburat senyap aku kian menuju pantai dan dermaga gema sunyi untuk melabuhkan nyeri. Ada sekumpulan mantra belantara yang mesti segera kupelajari untuk menundukkan keganasan yang lama bertahta di jagad kecil ini. Masih kukenali lantang merdu suara cinta pertama: aku lahir satu dengan nyawa seribu. Ada kemeriahan kecil yang menggelitik warna untuk terus melangkahkan karya. Ya kini aku bukan mesin, karena telah kutinggalkan, sudah kutanggalkan. Kini aku manusia. Ya manusia! Dan telah tiba waktunya buat ku semesta membaca silsilah debu yang kupetik dari sembilan episode dzikir sebagai bekal dan kekuatan dalam menuliskan sajak-sajak misteri indah kehidupan oleh kepak sayap jiwa.

Kamar Baca Aksara dan Suara; Bekasi, 18 Agustus 2008

Baca Puisi di TIM 16 Agustus 2008

Dalam acara Malam Renungan Kemerdekaan dengan Musik dan Pembacaan Puisi Patriotik di Plaza Terbuka (parkir depan) Taman Ismail Marzuki (TIM) tanggal 16 Agustus 2008, cukup banyak para pendukung atau pengisi acara. Setelah diawali dengan gerak lagu dan teatrikal dari beberapa anak sekolah, acara yang dipandu oleh duet penyair-sastrawan Fatin Hamama dan Kurnia Effendi tersebut meluncur mulai pukul 20.00 WIB. Dari musik pengisi malam itu adalah Lkers atau pencinta lagu-lagu Leo Kristi yang malam itu tampil dengan personil sekitar 9 orang membawakan banyak sekali lagu-lagu karya Leo Kristi. Juga sebuah grup bernama KSJ (Komunitas Sastra Jalanan). Para penampil yang membacakan puisi antara lain Epri Tsaqib, Ahmadun Y Herfanda, Shobir Poer, Endang Supriadi, Diah Hadaning, Wisanggeni (pelukis), Irmansyah, Depi, Ary Alimin, dan saya. Beberapa penyair lain saya tak bisa sebutkan karena lupa mencatat pada acara itu. Saya membacakan 2 puisi yaitu sebuah puisi yang sudah saya siapkan dari ruamh berjudul Panggung Kemerdekaan serta sebuah puisi dadakan yang saya tulis di bawah sebuah pohon di samping panggung sebelum saya ke panggung yang berjudul Upacara Harga.

PANGGUNG MERDEKA

beraneka pola telah terpampang

dan ribuan pengantri mengular di tepian

masuki cerita yang tengah membara

cakrawala menganyam elegi badai

bosan dalam jebak keriuhan yang nganga

dalam sapuan warna-warna maya

langit meradang menunggu kabar

tentang lakon yang akan dimainkan

seberapa kuat mengangkut pesan yang gegap

lautan mengirimkan segunung salam

tentang elok kedalaman yang dekap

kelak-kelok sapa yang sungguh kian tekad

tanah mengungkapkan kesah galau

ketika ribuan pasrah terlahir awal massal

nasib yang malas menenun jalin waktu

dan usah gagap menatap ajakan peran

ketika dendam dada telah begitu dinamit

keraguan adalah haram yang mesti disingkirkan

kerlip di pusar rasa karsa

akan membelaimu tak henti-henti

dengan lidahnya yang bara muda

ini dunia nyala

ini panggung merdeka

menantang cipta karyamu: merdeka

Bekasi, 15 Agustus 2008

UPACARA HARGA

ha…ha…ha…

agustus ini

upacara kenaikan bendera

atau perayaan kenaikan harga-harga

secara merdeka

agustus ini

perayaan lahirnya partai-partai baru

dan banyak yang bau..

merah putih

mari berani sengsara

ada hymne lagu tersedu

hu…hu….hu….

baru saja dompetku mau teriak merdeka

tak jadi

karena tersedak geli tertawa:

merdeka?

Jakarta, 16 Agustus 2008

Orasi diisi oleh penyair senior Abdul Hadi WM yang membawakan sebuah esai yang mengangkat tema Globalisasi sebagai neo-liberalisme, termasuk juga tentunya mengandung unsur neo-imperialisme. Tentunya keadaan tersebut menawarkan tantangan kepada para penyair/sastrawan juga masyarakat umum dalam menghadapi atau menyikapi kondisi kesusastraan serta kehidupan di masa mendatang.

Pada pukul 00.00 WIB ada renungan sesaat dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan, dan kemudian ditutup dengan 2 lagu oleh kelompok Lkers.

Merdeka! Mari berkarya secara merdeka.

Baca Puisi di RRI Jakarta 15 Agustus 2008

Dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63, pada tanggal 15 Agustus 2008 Radio Republik Indonesia (RRI) menyelenggarakan Dialog Interaktif dan Musikalisasi Puisi dengan tema: “Nasionalisme dan Hari Depan Indonesia”. Dalam acara yang sedianya dimulai pukul 19.30.WIB akhirnya baru dimulai pada pukul 20.00 WIB. Dalam dialog yang dipandu Direktur LPP RRI Parni Hadi tersebut hadir Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Taufik Effendi, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, salah seorang Direktur KPK Eko Tjiptadi, salah seorang anggota DPR, sastrawan/budayawan Ahmadun Yosi Herfanda serta Menteri Komunikasi dan Informasi Mohammad M Nuh yang datang terlambat.

Acara dibuka dengan 2 lagu musikalisasi puisi oleh Deavies Sanggar Matahari. Setelah itu acara dialog berlangsung sampai dengan pukul 21.00 WIB. Acara dialog berlangsung sangat hidup dan menarik karena Parni Hadi sebagai pemandu atau moderator diskusi mempertanyakan sebuah kata ‘nasionalisme’ dengan hal-hal seperti: sikap budaya orang tua dalam mendidik anak, peran birokrasi, cinta, sastra, korupsi, pidato presiden, konsep nilai, kemudahan akses informasi, dan lain-lain. Kepiawaian moderator dalam memancing pendapat narasumber serta kadang memberikan joke dan plesetan, membuat hadirin yang ada dalam ruang Studio B RRI Jakarta Jl. Medan Merdeka Barat 4-5 Jakarta Pusat tersebut banyak senyum bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal. Karena acara tersebut disiarkan secara langsung oleh RRI Programa 3 dan 4, yang dipancarkan/ditelangkai ke seluruh Radio Republik Indonesia, besar kemungkinan para pendengar yang mengikuti dengan seksama dari siaran radio juga ikut terhibur.

Mulai pukul 21.00 WIB siaran dipancarkan hanya oleh RRI Programa 4, yang berisi sebuah lagu musikalisasi puisi oleh Deavies Sanggar Matahari dan pembacaan puisi oleh beberapa narasumber dan penyair yang diundang. Beberapa narasumber dalam dialog yang membacakan puisinya antara lain Menpan Taufik Effendi, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menkominfo M Nuh, Ahmadun Y Herfanda, Eko Tjiptadi. Sedangkan Andi Mallarangeng menyanyikan sebuah lagu Leo Kristi yang menyinggung tentang nasionalisme/kemerdekaan. Setelah itu berlanjut ke pembacaan puisi oleh pejabat dari RRI yaitu Kabul Budiono yang mantan penyiar RRI dan Niken Widiastuti Direktur Program Produksi RRI, serta beberapa penyair antara lain Kurnia Effendi, Diah Hadaning, Titi Said, Fatin Hamama, dan seorang pegawai negeri Departemen Keuangan yang tengah belajar untuk menjadi penyair yaitu saya (sedang dalam proses mempelajari beberapa hal agar sakti dalam bersastra seperti ilmu kanuragan, pelet pengasihan, kebatinan, suwuk, aji-aji, suluk, mantram, dan lain-lain daya linuwih…… hahaha, memang mau jadi ahli klenik atau paranormal…?).

Sesuai anjuran dari panitia, saya membacakan dua puisi yang beraroma patriotik-optimisme meskipun beberapa narasumber dialog dan penyair membacakan puisi yang bernuansa kritikan atas keadaan dan kejadian yang negatif di Indonesia. Dua puisi saya tersebut berjudul Jiwa Nusantara dan Bara Juang.

JIWA NUSANTARA

dalam arus gelombang asa yang membuncah meruah

kita berenang

kita berlayar

demi jiwa yang tekun menenun semangat membangun karya

pusaran dunia kini tengah kencang-kencangnya

menawarkan bimbang menerbitkan gamang

bagi generasi yang dibatasi kutub jarak

letup perjuangan dalam cerita

sejarah tlah meriwayatkan air api angin tanah

telahkah kau petik nada irama saripatinya

dalam memuji teguh prasasti

merawi tembang pertiwi

tak kau dengarkah,

tertanam hutan sawah ladang

dalam detak degup jantungku

tak kau lihatkah,

mengalir sungai danau laut

dalam kanal-kanal darahku

gunung lembah

desa kota

menyeruak ke dalam barisan gempita nafasku

telah saatnya

kembali satukan mozaik tarian dan langkah

dalam karisma wajah indah nusantara

langitkan cita

kukuhkan citra

Bekasi, 7 Agustus 2008

BARA JUANG

api yang tegap nyala

mengaliri sumbu-sumbu yang tumbuh menyapa

kembang berjaya di dada anak bangsa

tepiskan lena

kibaskan manja

dalam ruas ritual

menjaga panasnya

merawat baranya

bubur merahnya

bubur putihnya

selaksa usap doa menjaga harap yang tekun merayap

empat mufakat

lima bersama

empat lima keramat yang senantiasa mengguncang langit jingga

tlah ditabukan segala lelah

tlah dilenyapkan segala pasrah

dalam menelusur riwayat masa bentang alur sejarah

kau, kau, kau…

pantang berdiam sahaja

mari bersama

kumandangkan gelora semangat

merah putih: merdeka

darah merdeka

tulang merdeka

tubuh merdeka

jiwa merdeka

Bekasi, 7 Agustus 2008

Dalam acara yang berlangsung sampai dengan pukul 22.00 WIB tersebut, selain disiarkan oleh RRI Programa 3 dan 4, juga diliput oleh Pro3tv dan Qtv. Sampai dengan tulisan ini saya buat, saya belum melihat laporan pandangan mata dari acara tersebut disiarkan, karena untuk televisi bukan siaran langsung. (karena saya juga tidak hobi menonton siaran televisi)

Sekali di udara tetap di udara, sekali merdeka tetap berjuang agar lebih merdeka di banyak bidang, dan sekali bersastra tetap akan menorehkan kata bermantracinta.

Tabik!

Bekasi 17 Agustus 2008

Agenda Acara Reboan dari PASAR MALAM

Setelah berlangsung selama 4 kali pelaksanaan, maka acara sastra Reboan akan bergulir lagi untuk beberapa bulan ke depan. Acara yang digagas oleh Paguyuban Sastra Rabu Malam (PASAR MALAM) ini akan kembali menyapa para penikmat dan peminat acara sastra, juga penyuka musik, teater, dan lain-lain. Kalau tidak ada pemberitahuan lebih lanjut dari panitia, maka acara Reboan tetap berlangsung tiap hari Rabu malam pada minggu terakhir setiap bulan dengan bertempat di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan Jakarta Selatan.

Berikut jadwal Reboan mulai bulan Agustus s.d Desember 2008 (kalau tidak ada perubahan jadwal oleh panitia atau hal-hal tertentu):

  • Reboan # 5 : 27 Agustus 2008
  • Reboan # 6 : 24 September 2008
  • Reboan # 7 : 29 Oktober 2008
  • Reboan # 8 : 26 Nopember 2008
  • Reboan # 9 : 31 Desember 2008

Dari pelaksanaan Reboan selama ini telah banyak pihak yang mendukung dengan ikut mengisi acara tersebut, seperti sastrawan/penyair Dharmadi, Matdon, Yopie S Umbara, Donny Anggoro, Epri Tsaqib, Slamet Widodo, Akmal N Basral, Teguh Esha, Heri Latief, Ana Mustamin, Kurnia Effendi, Unit Kegiatan Sastra Mahasiswa Univ. Bung Karno, artis Clara Sinta, mantan presenter televisi Cut Desy, penyanyi/band/pemusik Remy Soetansyah, Elex Yo Ben, dll.

Dengan format acara yang sangat cair dan terbuka, Reboan telah menjadi sebuah kegiatan yang mengasyikkan. (apalagi saya beberapa kali menjadi MC-nya, he3..) Namun demikian sebaiknya tetap diupayakan agar acara selalu menawarkan nuansa kesegaran dan inovasi baru agar tidak monoton dan membosankan. Untuk itu perlu masukan dari para penikmat acara. Untuk kritik saran serta usulan untuk ikut mengisi acara Reboan bisa berkirim email ke: sastrareboan@yahoo.com

Kepada teman-teman semua, mari ikut ramaikan acara Reboan.

Don’t miss it; and jangan forget….!

Menjadi MC lagi pada REBOAN #4 di Warung Apresiasi Bulungan Jakarta Selatan

Saya & Chika

Saya & Chika

Pada acara Reboan edisi 4 dari Paguyuban Sastra Rabu Malam (PASAR MALAM) tanggal 30 Juli 2008 di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan Jakarta Selatan, lagi-lagi saya menjadi pembawa atau pengawal acara alias MC (Master of Cuap-cuap). Jauh beberapa hari sebelum acara tersebut, ada kabar bahwa pasangan saya waktu MC di Reboan edisi 3 bulan Juni yaitu Astri sedang ada tugas ke luar kota, sehingga tidak bisa mendampingi saya di Reboan. Saya berusaha menghubungi beberapa teman, akan tetapi kebanyakan menyatakan belum pernah menjadi MC atau merasa tidak pengalaman. Meski telah kujelaskan bahwa saya juga baru sekali menjadi MC pada Reboan bulan Juni. Akhirnya ada kabar dari mas Johanes Sugianto, sang kepala suku PASAR MALAM bahwa ada seorang anak SMA yang orangtuanya sudah kenal, mau menemani saya menjadi MC. Wah hati saya berbunga-bunga, mau ditemani seorang dara yang tengah beranjak remaja. Wah bisa-bisa saya bisa menjadi muda kembali. (semangat belajarnya, maksudnya…)

Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB dan tamu telah banyak berdatangan. Tamu Reboan kali ini sangat banyak dan ada yang spesial karena banyak penyair atau penggiat sastra yang sudah sangat terkenal seperti mbak Diah Hadaning, mbak Medy Loekito, Pudwianto Arisanto, mas Adri Darmaji Woko, Dharmadi, Bambang Joko Susilo, Endo Senggono (PDS HB Jassin), dan lain-lain. Juga hadir Jodhi Yudono dari Kompas.com.

Sebelum acara mulai saya bertemu sekaligus berkenalan dengan Chika di tempat duduk di depan panggung. Chika yang cantik diantar kedua orang tuanya. Saya ajak mengobrol namun Chika masih kelihatan tak banyak bicara, mungkin grogi baru bertemu dengan saya atau malah karena kaget dan takut karena harus mendampingi seorang MC yang sudah tua dan ubanan, he3…. (padahal masih spirit ’seventeen’ juga).

Acara dimulai pukul 19.30 WIB, seperti biasa agak molor dari jadwal semula. Acara dibuka oleh penampilan grup musik Elex Yo Ben. Band ini yang memainkan tekno-metal menggeber 3 lagunya yang diambil dari albumnya yang diberi judul Gendhing Bejad. Lagu-lagu My Wife is Very Dangerous, Love Emang Anjrit, dan lagu-lagu lainnya terasa menyentak, keras, sekaligus dengan syair yang tajam menyentil dengan kritik. Setelah itu saya dan Chika naik ke panggung, mulai membacakan materi acara. Reboan kali ini bertema tentang kenangan. Saya sempat tunjukkan wayang kulit Anoman dan Wisanggeni, yang ternyata Chika kurang mengenal wayang. Mengapa saya membawa wayang kulit? Ya, karena wayang kulit merupakan sebuah karya seni yang saya sukai. Sejak saya duduk di sekolah dasar saya sering mendengarkan siaran wayang kulit di radio, terutama waktu masih berada di kampung, di Purworejo. Dalang favorit saya adalah Ki Hadi Sugito asal Toyan Wates Kulonprogo (beliau wafat awal tahun 2008 ini). Ada beberapa koleksi kaset dengan lakon: Wahyu Senopati, Wisanggeni Gugat, Gathutkoco Neges, dll. Pada waktu kuliah di Yogya, saya sering menonton pertunjukan wayang kulit di Sitihinggil Alun-alun Selatan Kraton Yogyakarta. (ada yang lupa saya tunjukkan di panggung Reboan ini yaitu beberapa kaset musik koleksi saya yang sudah saya siapkan tetapi masih ada dalam tas, antara lain: Dunia Huru Hara (Achmad Albar), Ratna Sari Dewi (Freddy Tamaela), Dinding-Dinding Kota (Elpamas), Bohong (K3S))

Penampilan berikutnya adalah diskusi buku puisi karya Dharmadi, penyair Purwokerto yang berjudul Jejak Sajak. Penyair yang sudah senior ini sebelumnya telah membukukan puisi-puisinya dalam antologi tunggal: Kembali ke Asal, Kemarau, Aku Mengunyah Cahaya Bulan. Saya bertugas sebagai moderator dan buku dibahas secara singkat oleh Adri Darmaji Woko yang juga penyair senior, teman akrab Dharmadi. Setelah itu tampil Badri AQT, penulis asal Depok yang belum lama menikah (sebelumnya sukses memacari cerpen, he3) tampil penuh enerjik membacakan (lafalisasi) petikan novel Lanang karya Yonathan Rahardjo. Kemudian ada diskusi novel Chimera karya Donny Anggoro, yang dibahas oleh Hikmat Darmawan dan dimoderatori oleh Sahlul Fuad. Penampil berikutnya adalah Matdon penyair asal Bandung yang telah menerbitkan buku-buku puisi: Garis Langit, Mailbox, dan baru menerbitkan dengan judul Kepada Penyair Anjing. Penampil selanjutnya band Strangers juga asal Bandung. Band yang terdiri dari 4 personil ini telah merilis album indie berjudul Everything Goes Automatic, dan merasa ada influence dari beberapa band macam The Beatles, Radiohead, The Cure, Coldplay. Menyanyikan 4 lagu yang cukup menghentak dalam balutan brit-pop. Setelah itu tampil Yopie Setia Umbara, penyair asal Bandung yang datang bersama Matdon membacakan beberapa puisi. Berikutnya tampil Ana Mustamin yang membacakan puisi pertama dari proyek seribu puisi-nya Kurnia Effendi pada tahun 1996 yang dikirim lewat surat kepada Ana sewaktu masih di Makasar, disusul Epri Tsaqib yang membacakan beberapa puisi dari buku kumpulan puisinya yang pertama dan baru diterbitkan yaitu Ruang Lengang. Juga ada perkenalan buku berjudul Menggenggam Cahaya. Buku ini mau sedianya diperkenalkan oleh Lia Octavia, tetapi karena dia sakit maka diperkenalkan oleh sahabatnya yaitu Arsya dan salah satu temannya yang juga tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP). Selain itu juga tampil Teguh Esha yang terkenal dengan novelnya Ali Topan Raja Jalanan tampil membacakan beberapa puisi, salah satunya tema tentang Dr Sjahrir, ekonom dan anggota watimpres yang meninggal beberapa hari lalu. Tak ketinggalan naik ke panggung penyair Sihar Ramses Simatupang yang membacakan sebuah puisi karya Epri Tsaqib dan puisi tulisannya sendiri. Setelah Sihar, hampir ketinggalan tetapi akhirnya baca puisi juga yaitu Nurdin Achmad Zaky, penulis yang katanya baru menulis awal tahun 2007 dan tulisan-tulisannya masih untuk konsumsi pribadi. (jadi kapan mau dibagi-bagi nih….)

Acara malam itu ditutup oleh penampilan Elex Yo Ben dengan 3 lagunya yang lagi-lagi masih enerjik dan menerabas temaram panggung di Wapres Bulungan.

Secara umum acara malam itu berlangsung lancar dan sukses. Saya yang banyak melakukan improvisasi dan sedikit humor dan plesetan, dan serta ditemani Chika yang mengaku masih agak grogi sampai dengan akhir acara, mendapat komentar dari beberapa teman bahwa beginilah sebaiknya acara seni, ada seriusnya tetapi juga ada performance yang menghibur dan menjadikan malam di ibukota yang sedemikian gemuruh menjadi rileks sejenak. Dan faktor pembawa acara alias MC sebenarnya demikian penting dalam lebih menghidupkan dan menggempitakan acara. Saya merasa bersyukur karena menyukai bacaan dan musik sehingga ada bahan secara dadakan dalam ingatan saya yang bisa saya sampaikan selain bahan yang saya siapkan secara tertulis. Mungkin yang perlu disiapkan lagi adalah mengenai film, karena saya kurang menyukai film. (ada yang mau ngajak nonton film nggak nih….he3)

Dalam Reboan bulan Agustus 2008 yang mengambil tema tentang Kemerdekaan, apakah saya masih menjadi MC atau tidak, tergantung teman-teman PASAR MALAM apakah masih menghendaki. Saya merasa siap dan sembari terus belajar akan berupaya semaksimal mungkin membuat Reboan lebih rileks, menghibur, juga lebih inspiratif. (semoga tidak dikaitkan dengan aturan kepala daerah/negara yang menjabat maksimal 2 periode saja, he3….)

Dan bukan tidak mungkin akan memperpanjang predikat: akuntan, pegawai negeri, pemusik, pencipta lagu, penyair, dan presenter (wah koq kian bermanis-manis narcis… ya he3..)

Ok, teman: salam kreatif; inovatif; progresif.

Puisi Budhi Setyawan di Jurnal Kebudayaan The Sandour

Budhi Setyawan & lukisan alam

Budhi Setyawan & lukisan alam

Jurnal Kebudayaan The Sandour adalah media yang mengakomodasikan karya sastra antara lain puisi, cerpen, esai, dan lain-lain; yang diterbitkan oleh PUstaka puJAngga bekerjasama dengan Forum Sastra Lamongan (FSL). Dalam nomor edisi III tahun 2008 yang menampilkan puisi-puisi penyair yang telah dikenal seperti: Raudal Tanjung Banua, S Yoga, Kirana Kejora, Dadang Ari Murtono, Saiful Bakri, dan lain-lain; termuat beberapa beberapa puisi sederhana saya yang saya tulis tahun 2007. Ada tiga puisi yaitu berjudul Ode Penyair Luka, Sajak Penyair Lupa, dan Menuju Pertemuan. Berikut saya kutipkan silahkan diberi komentar penyemangat agar saya mampu menulis yang lebih berbobot lagi.

ODE PENYAIR LUKA

akulah

penyair luka

terlahir dari darah nanah

kutawarkan rintih duka kepada samudera

untuk kutukar dengan: ombak ganas

kutawarkan bosan nuansa kepada ladang

untuk kutukar dengan: gesit musang

kutawarkan hambar jiwa kepada sabana

untuk kutukar dengan: taring singa

kutawarkan keluh sengsara kepada belantara

untuk kutukar dengan: aum harimau

kutawarkan beku cinta kepada gunung

untuk kutukar dengan: gelegak lava

masih ku duduk di kepak kata

menunggu jawabnya,

sambil menghitung sisa usia

Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007

SAJAK PENYAIR LUPA

bukan ini yang kumau

mengapa puisi begini menjadi

ini hanyalah najis dalam bangunan kata-kata manis

“duhai kata pujaan

bermalam-malam

berbulan-bulan

bertahun-tahun

kau benamkan aku dalam perahu renjana

melintasi taman teduh sekujur pembuluh

setia meski di ruang keruh

bahkan banyak yang ingin membunuh

tiada keluh mengaduh

sampai engkau kurengkuh, sungguh”

“engkau terus membelit menggodaku

namun kau tak pernah hadir di bait-bait sajakku

mengapa kau udarakan rayu manja,

begitu aku semangat; engkau khianat?”

ternyata,

puisi yang diharapnya

tak pernah tercipta

hingga sang kala meremahnya

di jalan menikung, senja yang mendung

penyair berlalu sendirian dan lupa bersenandung

Jenewa (Swiss), 28 Juni 2007

MENUJU PERTEMUAN

senja tersungkur matahari berbaur

lautan meringis teriris menahan gemeretak ombak

tanah-tanah terbelah tampakkan pasrah

senyap arah

danau sungai peluk temaram

terhisap suara ke dalam untai debar

gunung perbukitan menundukkan tubuh

khidmat menempuh jalanan luruh

ini dunia

hanya permainan dan canda belaka

batu kapur,

melapuk umur

menuju kubur

Jakarta, 2 November 2007

(Jurnal Kebudayaan The Sandour Jln Raya Sukodadi – Makam Sunan Drajad, Kendal- Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan Jawa Timur; website: www.pustaka-pujangga.com, email: pustaka_pujangga@yahoo.com)

KETIKA AKU MESIN

(lanjutan dr tulisan AKU MENUJU MESIN)

Kini aku telah mesin. Semakin banyak yang meluaskan decak melimpahkan kagum. Asa baru yang terus membukit menggunung akan sebuah mitos kemajuan. Segala mewujud dalam benda yang tampak, bisa diraba mata dunia. Gedung, jalanan, industri, pagar, rumah, danau, laut, sungai, tempat ibadah, sekolah, pakaian, dan rupa-rupa bentuk penampakan lainnya, mesti bagus menuju bias, cantik menuju carut, anggun menuju angkuh!

Apakah ini pagi? Apakah ini siang? Apakah ini sore? Apakah ini malam? Ruas-ruas waktu itu tak ada artinya bagiku. Yang paling penting aku terus mengepul menderu, berputar menerobos maju, menuju ambisi yang kian batu. Pulau-pulau tujuan telah ditetapkan, daerah-daerah buruan telah ditentukan, dan nasib-nasib telah digariskan. Ya… aku hanya menjalankan gerak yang telah diprogram, menjalani langkah yang telah dipola. Berjalan dan terus berjalan, berlari dan terus berlari, berputar dan terus berputar, mengejar, melingkar-lingkar….

Tak ada kata henti dari keinginan sendiri. Karena semua menuju yang menghasilkan penampakan nyata, sekali tersendat apalagi melambat, maka bayangan rugi menghantui, dan aku pasti akan dimaki-maki. Tetapi aku lebih sering dielus, disayang, dioperasi, agar selalu cantik, selalu gagah, selalu awet muda, dan bisa terus bekerja, diperas untuk memproduksi dari segala sendiku. Jangan tanya aku tentang mengingat waktu, apalagi kenangan. Semua itu tak ada pada diriku sekarang. Menguap bersama debu musim yang kerontang, sedang di sini aku selalu meniti pematang lurus dengan pemanas memanggang.

Ahai…peranku kian ditunggu, membelukar kemana-mana, tak hanya kota-kota yang kurambah dengan riang gemuruh. Namun juga ceruk kampung sudut dusun pelosok desa hingga belantara adalah peluasan wilayah sentuhanku, belaianku, mainanku, juga jajahannku… Posisiku kian tinggi dielukan sebagai pemuas birahi tinggi ekonomi, yang sinyalnya terus menyentuh ubun-ubun hasrat yang mesti ditumpahkan, dimuncratkan, digelontorkan, ke dalam kanal-kanal buatan sambil mengajukan sosok berdasi dengan lembar-lembar kertas penuh dengan gambar dan grafik, dihias sirip-sirip pelangi. Tuan-tuanku, para mesin kepala, sibuk hilir mudik bercakap membombastis meraksasa rekayasa setiap lekuk komoditas, gelinjang saham, motivasi basi, analisis narsis, dan menawarkan film panorama kemiskinan ke bursa saham atau taruhan mesin jabatan, dan banyak lagi, terus bertumbuh kemilau perjudian. Seperti sibuk, seolah khusyuk, ah mungkin saja alih-alih menebar gelora dalam lintasan menuju busuk.

Jalanku senantiasa sama, itu-itu saja, dengan jejak tapak keras dan kepul depu yang banyak wajah-wajah pasrah memunguti, menciumi, menjilati, menghisap, memakan; sambil menjelujurkan nanar gersang dan rapuh raih. Ya… mereka yang tertinggal dari lari zaman, terdepak dari panggung masa yang bergerak menunggang kilat, dan mereka yang tak siap akan terpental dengan tersengal, terkoyak melubang desis rintih, di pinggir ledakan halilintar kebudayaan.

Sedangkan aku terus melaju, aku terus dipacu, tak lelah tiada keringat dari pelana sofa sembari terus merajut rencana agar kerajaan kian menggelar kuasa. Mesin-mesin harus terus bekerja, kalau kurang rajin, tambahkan bahan bakar rakus dendam dengan pelumas tamak dengan operator yang juga mesin atau robot, dan tempelkan budaya semangat dengan semboyan “memakan atau dimakan”. Perluas kampanye tentang mesin, semua koran, radio, televisi, dan alat komunikasi media massa lainny adalah mesin dan pastikan penggunanya mesin. Kabarkan ke seluruh langit dan kolong-kolongnya bahwa sekarang adalah zaman mesin. Yang tak mesin, yang bukan mesin akan terhenti, tak sanggup memasuki pintu kemajuan, terjatuh terbalik terbentur runcingnya tusuk kaku peradaban.
Mesin….mesin…ya mesin. Mari ikutlah semua seperti aku. Aku berputar, aku bergerak, aku melaju….. ayo bergabunglah, mengumpullah, menyatulah ke dalam kerajaan mesin, republik mesin, masyarakat mesin, ummat mesin, semboyan mesin, nasehat mesin, doa mesin, cinta mesin..
Aku mesin… aku mesin… AKU MESIN!

BKF Jakarta, 08 Juli 2008

Jadi MC dalam Acara REBOAN # 3

Acara REBOAN dari PASAR MALAM (Paguyuban Sastra Rabu Malam) edisi # 3 berlangsung pada Rabu malam tanggal 25 Juni 2008 di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan. Dalam acara tersebut banyak pengisi acara yang tampil antara lain kelompok band indie E-Sound yang menyanyikan beberapa lagu ciptaan sendiri; Erwin yang menyanyikan sajak karya Slamet Widodo; Slamet Widodo sendiri membacakan 2 puisinya; Heri Latief  penyair yang bermukim di Amsterdam dan sedang berada di Jakarta; Johannes Sugianto, Pakcik Ahmad dan Dedi Tri Riyadi keduanya dari PASAR MALAM, Mikael Johani, Iskyd dan Anya Rompas dari Komunitas Bunga Matahari; Hujan dan Deepi dari unit kegiatan sastra Universitas Bung karno.

Pada malam itu saya mendapat amanat dari teman-teman di PASAR MALAM untuk menjadi MC, alias Master of Ceremony alias Master of Conthong (bahasa prokem-nya). Oleh karena seseorang yang biasanya mengisi menjadi MC sedang ada tugas berkaitan dengan pekerjaannya, maka saya dijadikan MC secara aklamasi oleh teman-teman saya. Padahal sebelumnya, seumur-umur sampai saat acara REBOAN # 3 itu, saya belum pernah menjadi pembawa acara atau MC di acara apa pun. Tetapi karena saya suka mencoba hal baru dan sekalian untuk pengalaman, toh juga kalau ada salah-salah tak apa lah dan penonton tak menggigit saya juga, maka saya coba saj amenjadi MC. Oleh karena tema REBOAN ini adalah tentang JAKARTA, berkaitan dengan ulang tahun kota Jakarta yang ke 481, maka selain pengisi acara membawakan puisi bertema Jakarta, saya sebagai MC juga menyiapkan beberapa catatan yang berkaitan dengan Jakarta. Beberapa artikel atau bacaan yang saya kutip adalah penggalan puisi-puisi tentang Jakarta karya Rendra, Diah Hadaning, Gus Mus, serta sebagian lagu dari Iwan Fals (Berkacalah Jakarta), Koes Plus (Kembali ke Jakarta), Andi Meriem Mattalata (Lenggang Lenggok Jakarta), dll. Beberapa penggalan puisi dan lagu tersebut saya sisipkan di sela-sela saya membacakan siapa yang baru dan akan tampil selanjutnya. Ternyata improvisasi tersebut sedikit memberikan nuansa yang berwarna dan mengundang decak, sehingga hadirin tidak merasa bosan dan monoton. Dan beberapa teman mengatakan, cukup sukses dengan membawakan acara seperti itu. Terima kasih teman.

Pada malam itu saya menjadi MC berduet ditemani oleh Astri, mahasiwi Universitas Bung Karno. Saya bertemu dengannya ketika saya dan beberapa teman PASAR MALAM diundang untuk mengisi acara OLEH-OLEH DARI SASTRA, yaitu acara yang diprakarsai oleh unit kegiatan  mahasiwa Univ. Bung Karno diselenggarakan di Depok Town Square pada hari sabtu 16 Juni 2008. yang hadir dari PASAR MALAM adalah saya, Johannes Sugianto, Setyo Bardono & Dedi Tri Riyadi. Pada saat itu saya membacakan espuisai (seperti puisi-esai) yang berjudul AKU MENUJU MESIN, yang merupakan bagian 1 dari 3 tulisan. Di acara tersebut Astri yang menjadi salah satu MC-nya.

Syukurlah acara REBOAN # 3 berlangsung lancar dan sukses, dengan tetap selalu mengedepankan kebebasan berekspresi dan komitmen berkesenian yang mencerahkan. Banyak pesan kebaikan yang disampaikan oleh pengisi acara, namun karena suasana cukup ramai mungkin hanya beberapa saja kesejukan yang terserap. Namun itu tak masalah, karena bila para penikmat dan penggiat sastra telah kembali ke rumah masing-masing, ke kesunyian masing-masing, biasanya akan muncul dialog dengan batin sendiri dan mulailah terangkai sulur-sulur kebajikan yang kemudian akan ditumpahkan ke dalam karya dan perbaikan dalam sikap dan langkah dalam meniti jalan kehidupan. Tabik!

« Tulisan sebelumnya